Aku terus mengikutinya dari belakang, Sesekali dia menoleh ke
belakang untuk memastikan aku benar ada dan tidak jauh darinya. Namanya
Dadang tetangga sebelah rumah sekaligus sahabtku sejak kami bersama
menghabiskan 6 tahun di sekolah dasar, Postur tubuhnya yang lebih
jangkung dari aku membuat nya selalu menungguli ku dalam beberapa
permainan yang sering kami lakukan, Langkah nya yang panjang dan gesit
membuatnya lebih sering mendapatkan layangan putus yang sering kami
kejar seusai pulang sekolah.
Hari itu langkah cepatnya berjalan mengikuti sekumpulan massa
yang memang sejak tadi pagi sudah membanjiri sepanjang jalan di depan
SMP kami, Meskipun belum tahu benar namun kami yakin tujuan mereka
adalah kantor walikota. Kantor megah yang selalu dijaga petugas
pengamanan, hari itu tak ubahnya seperti pasar kaget. Ratusan orang
sudah berkumpul disana dengan berbagai macam atribut, ada yang menenteng
bendera merah putih tinggi-tinggi namun banyak juga yang membawa
bendera-bendera yang entah bendera apa itu , ada yang membentangkan kain
putih lebar berisi tulisan tulisan yang saat itu kami tidak mengerti
benar apa maksud dari tulisan itu.
Seseorang dari mereka mencoba megendalikan suasana dengan
mengambil tempat lebih tinggi berdiri di atap mobil plat merah yang
terjebak di luar dan tidak bisa masuk ke dalam area parkir kantor.
“Sodara-Sodara ku semuanya” Kalimat itu yang dia gunakan
untuk membuka topik pembicaraan, Suasana yang tadinya gaduh kini
menjadi tenang dan semua orang yang ada disana menjadi tertuju pada sang
orator, Sang orator dengan penuh semangat membicarakan pasal – pasal
dan perundang undangan yang jelas belum aku mengerti saat itu, sang
orator dengan pengeras suara yang dia tenteng di bahu kanan serta
michropone yang dia pegang penuh semangat di genggaman tangan kanan nya
membacakan tentang hak-hak dan kewajiban, Sang orator pria pendek
berperawakan sedang yang rupanya lambat laun dari kejauhan aku bisa
mengenalinya, ya aku mengenalinya.
Sang orator itu adalah laki-Laki yang semalam menghabiskan
secangkir kopi dan pisang goreng di meja kecil beranda depan rumahku, Ya
aku mengenalnya. Laki-Laki yang semalam mengetuk pintu dan bertanya
“Le, Bapakmu ono le?” begitu aku membuka pintu.
Aku menarik lengan Dadang dan membicarakan tentang laki-laki itu
sang orator yang semalam menghabiskan kopi dan berbincang hingga larut
malam dengan Bapakku, Dadang hanya mengangguk sekena nya karena matanya
tidak bisa lepas dari petugas keamanan dengan tameng dan pentungan di
tangan kanan serta helm anti huru-hara lengkap di kepalanya, petugas
keamanan yang memang ada sejak tadi sejak massa mulai menyemut di depan
kantor walikota itu, Memang cita-cita Dadang sejak kecil ingin menjadi
penjaga keamanan seperti Bapak nya yang meninggal saat ditugaskan di
luar pulau.
Situasi siang itu mirip seperti saat ini, Saat aku mulai
mengerti arti turun ke jalan untuk menuntut hak-hak dan kewajiban yang
ternyata tidak mudah saat harus di selesaikan di atas meja, saat janji
janji tak lagi dipenuhi bahkan lebih sering di ingkari, saat orang-orang
pintar malah ada untuk memintari orang lain.
Kami datang bergelombang, kami memang berdesak-desakan namun kami
datang dengan tertib dan teratur karena ini adalah aksi damai, matahari
semakin meninggi seiring jumlah kami yang semakin bertambah.
Kami memang sudah merencana aksi ini, turun ke jalan dan menuntut hak-hak kami dan kami yakin mereka juga tau akan hal ini.
Masalah yang tidak terselesaikan di meja perundingan adalah
alasan kenapa ada aksi seperti ini, kepercayaan kami yang telah meleleh,
luntur dan pergi entah kemana,
Setiap kali mereka meminta untuk berakir di atas meja.
Kami mirip gabah yang digoyang-goyang dalam sebuah karung goni,
aku yang tadi tidak di barisan paling depan, kini entah bagaiman sudah
ada di bagian depan, sesekali muka ku membenturi tameng plastik tebal
para petugas pengamanan yang membentuk pagar hidup mirip seperti yang
aku lihat waktu itu, lengkap dengan pentungan dan helm pengaman anti
huru hara. Sesekali kami mencoba menerobos mendekati pintu gerbang
pabrik itu namun pentungan-pentungan dan tameng-tameng itu menghalau
dan mendorong kami ke belakang, kami mencoba lagi namun terdorong lagi.
Diantara petugas pengamanan yang berjajar memagari pintu gerbang
pabrik itu, aku melihat dia, dia berdiri diantara teman-teman bertameng
nya, dia yang bertameng dan pentungan di tangan kanan, aku mengenal
nya. Mengenal nya bahkan sebelum teman-teman bertameng nya yang lain
mengenal nya
Aku masih mengingat bau keringat nya dengan jelas, Aku masih
mengingat saat seluruh desa kami jelajahi untuk megejar layang layang
setiap hari sepulang sekolah. Bahkan aku pun bisa membeda kan nya
diantara kerumunan penuh keringat ini. Tatapan matanya tidak pernah
berubah, tatapan matanya semakin meyakinkan ku akan dirinya, ya aku
mengenalnya.
Dadang , ya dia memang Dadang. Keyakinan ku semakin menguat saat
aku mendekat dan membaca nama yang menempel di badge nya. kali ini aku
menerobos tepat di depan nya, rasa gembira bercampur suka karena
bertemu kawan lama namun sayang nya saat ini waktu nya tidak tepat, saat
ini kami bagai air dan api bagai tikus dan kucing bagai dua kutub yang
tidak mungkin menyatu, Saat ini dia menjaga pintu gerbang yang ingin aku
terobos, ingin aku robohkan ingin aku ratakan dengan tanah,
rasanya tak mungkin kami saling bereaksi layaknya kawan lama,
namun apa salahnya jika aku coba saja.
“Dang! Dang!” Aku menyebut nama nya tepat di depan mukanya,
tapi dia tidak bereaksi , matanya jelas menatapku namun bukan untuk
memutar kenangan indah kita berdua.
“Dang, Dadang!!” Kali ini aku mencoba menyentuh tubuhnya
melewati tamen-tameng plastik tebal itu, Namun tameng itu malah
mendorong ku dengan keras diikuti pula tameng-tameng lain yang ikut
mendorongku, mendorong kami mendorong massa mundur kebelakang.
Aku mencoba mendekatinya lagi mencoba membangun masa lalu yang mungkin saja bisa membuatnya sedikit melunak.
“Dang, Kamu ingat sang Orator yang dulu kita lihat di depan kantor walikota kala itu?” tanyaku sambil terus mendekati wajahnya yang tertutup kaca helm.
“Ingat kamu??” Tanya ku membentak kendati dia tetap saja terdiam.
“Dia lah orang yan g akhirnya membiayai aku hingga lulus
Sekolah, setelah bapakku di ciduk dan tidak pernah kembali ke rumah
sampai sekarang”
“Sama seperti rumahmu yang akhirnya harus di bakar agar kalian mau digusur” Ucapku kali ini dengan nada agak tinggi.
Namun Dadang tetap diam dengan raut muka dingin dan terus menghindari pandangan mataku.
“Dang..Heii dengar kan aku” Kali in aku benturkan kepala ku tepat ke tameng plastiknya agar dia memperhatikan ku.
“Pabrik yang kokoh berdiri di belakangmu ini sama serakah nya
dengan walikota waktu itu , keserakahan yang menghapus kenangan indah
kita masa kecil, keserakahan yang merenggut semua yang kita punya,
hingga akhir nya kau harus pergi meninggalkan rumah, tanah dan desa mu,
desa kita dan membuat bapak ku hilang sampai sekarang”
Emosi massa semakin yang tidak terkendali terlihat dari
teriakan-teriakan untuk segera menerobos pagar betis dan mendobrak pintu
gerbang.
“Lihat kamu Lihat, mereka adalah bapak dari anak-anak nya, Apa
kamu tega membela keserakahan yang siap kapan saja memisahkan mereka
dengan anak-anak nya, istri-istrinya, keserakahan yang bisa saja membuat
kita terpisah karena kita berdiri di sisi yang berbeda” Ucapku sambil melihat mata nya yang kali ini mulai melihat ke arahku.
“Berapa banyak lagi anak-anak yang akan mengalamai banyak kehilangan seperti kita”
“Berapa banyak lagi, Goblok!!” Kali ini aku akhiri pembicaraan dengan memukul tamengnya dengan tangan ku sendiri.
Seketika tameng –tameng lain langsung mendorong ku terjatuh ke bawah
begitu juga pentungan yang menyasar ke seluruh tubuhku, kemudian Dadang
mendekatkan wajahnya mendekatiku sambil berkata “ Ini sudah menjadi tugasku untuk melindungi orang lain yang merasa terancam atas perilaku orang lain kawan, Maaf ” Ucapnya sambil dia berlalu dan membiarkan sepatu-sepatu mendarat di muka dan di sekujur tubuhku.
Dan hanya itu yang aku bisa ingat, sampai saat semuanya kabur dan
mengaburkan pandangan, lalu hanya ranjang dan kelambu serta cat ruangan
putih yang aku lihat, Istri dan anak ku yang menunggui aku di samping
ranjang ku, Saat itu aku tersadar rupanya aku ada di rumah sakit.
Seketika itu juga aku memeluk mereka erat-erat, aku takut kehilangan
mereka sama takut nya saat bapak ku diciduk dan aku kehilangan nya,
sama takutnya saat harus kehilangan kenangan indah masa lalu, sama
takutnya saat harus kehilangan seorang kawan.
Komentar
Posting Komentar